ASI Adalah Hak Anak dan Ibu.... Print E-mail
Dari tanggal 1 sampai 7 Agustus setiap tahunnya, WABA atau The World Alliance for Breastfeeding Action yang menggagas Pekan ASI/Menyusui Sedunia, mengajak semua anggota masyarakat untuk melakukan aksi atau tindakan langsung untuk melindungi, mempromosikan dan mendukung ASI dan kegiatan menyusui. 

Semua itu tak lain untuk mengingatkan kembali betapa pentingnya, betapa berharganya ASI dan menyusui, bukan hanya bagi anak, tetapi juga bagi ibu.

Bahwa ASI adalah hak setiap bayi/anak dan menyusui merupakan kewajiban setiap ibu, itu sudah sering kita dengar!.  Tetapi sadarkah kita bahwa memberikan ASI itu adalah juga hak setiap ibu, hak setiap perempuan.  Sesungguhnya, setiap perempuan sudah memiliki cikal bakal payudara semenjak ia masih berada di dalam rahim ibu.  Begitu ia lahir, saluran-saluran air susunya pun sudah terbentuk. Dengan kata lain, Tuhan telah memberikan ’kemampuan’ untuk menyusui kepada setiap perempuan, bahkan sejak ia belum terlahir ke dunia.  Ini berarti menyusui (memberikan ASI) adalah HAK ASASI bagi setiap ibu. 

Karenanya, menyusui atau tidak menyusui adalah hak ibu untuk memutuskan.  Kita tidak bisa memaksa seorang ibu untuk menyusui kalau ia tidak ingin.  Karena menyusui itu juga melibatkan keikhlasan ibu, bukan hanya sekedar memberikan ASI kepada bayi.  Sebaliknya, tak seorangpun yang boleh menghalangi seorang ibu memenuhi haknya untuk menyusui anaknya.  Dalam nilai-nilai masyarakat kita, menyusui sebenarnya adalah hal yang alamiah, wajar, tidak aneh.  Mungkin karena dianggap bukan sesuatu yang luar biasa itu lah, masih banyak orang dan pihak yang tidak atau belum menyadari bahwa memberikan ASI itu adalah juga hak ibu. 

Masih banyak orang dan pihak-pihak yang terheran-heran, tidak mengerti, kalau seorang ibu ingin memberikan ASI eksklusif.  Komentar-komentar seperti; ” Kenapa sih kok sepertinya ngoyo sekali menyusui?”, ”Kamu akan ’terikat’, ngga bisa kemana-mana kalau menyusui terus...”, ”Memangnya, gajimu dan gaji suamimu ngga cukup buat beli susu?”, dan banyak lagi lainnya, ’terpaksa’ masih harus didengar oleh ibu-ibu yang tengah berupaya memberikan ASI eksklusif.  Sedihnya lagi, komentar-komentar sinis itu justru keluar dari anggota keluarga sendiri!.  Kenyataan lainnya, masih banyak tempat kerja yang belum bersedia memberikan kesempatan bagi ibu untuk memerah ASI. Meskipun sebenarnya, Undang-undang No. 13 tentang Ketenagakerjaan telah jelas-jelas menyatakan bahwa pekerja/buruh perempuan yang masih menyusui anaknya harus diberi kesempatan untuk itu.

Kondisi-kondisi itu rupanya oleh banyak orang tidak dianggap sebagai pelanggaran hak asasi manusia.  Sungguh, sangat menyedihkan.  Bagaimana dengan Anda?  Silakan tuliskan pemikiran maupun pengalaman Anda seputar ASI dan menyusui pada kolom di bawah ini.  Ini tidak dikhususkan bagi perempuan dan ibu-ibu saja lho....  Pendapat dan pengalaman para ayah juga kami nanti-nantikan! (EG)
 




Foto Minggu Ini

Enak digendong om

album : Pratama